Home » Artikel

Category Archives: Artikel

Indikator Kualitas Susu Segar dengan Parameter Sanitasi, Higiene, dan Kontaminasi

Susu merupakan media yang paling baik untuk pertumbuhan mikroorganisme sehubungan dengan tingginya zat-zat makanan yang dikandungnya. Ada berbagai macam mikroorganisme yang dapat mengontaminasi susu sesuai dengan temperatur hidupnya serta aktivitasnya dalam menguraikan zat-zat makanan di dalam susu, sehingga dapat menimbulkan beberapa perubahan pada susu baik secara fisik, kimia maupun biologis. Lingkungan yang ada di sekitar tempat susu diproduksi, baik itu temperatur, iklim, udara, dan kelembaban udara sangat mempengaruhi keberadaan susu yang kelak juga akan menentukan kualitas susu yang akan dihasilkan.

Adapun untuk perihal kasus keracunan setelah minum susu ada dua bentuk, yaitu infeksi dan intoksikasi. Infeksi terjadi karena mengonsumsi susu yang terkontaminasi bakteri, sedangkan intoksikasi terjadi karena mengonsumsi susu yang mengandung toksin. Gejala intoksikasi lebih cepat muncul dibandingkan dengan infeksi. Bakteri yang mengontaminasi susu dikelompokkan menjadi dua, yaitu bakteri patogen dan bakteri pembusuk. Bakteri patogen meliputi Staphylococcus aureus, Escherichia coli, dan Salmonella sp., sedangkan untuk bakteri pembusuk antara lain adalah Micrococcus sp., Pseudomonas sp., dan Bacillus sp.

Perubahan-perubahan pada susu baik yang dapat dilihat secara kasat mata (makroskopis) maupun secara mikroskopis sangat bervariasi, tergantung pada reaksi kimia yang terjadi di dalam susu. Adapun reaksi kimia yang terjadi bervariasi pula sesuai dengan tipe dan sumber penyebab terjadinya reaksi-reaksi tersebut. Pada umumnya reaksi kimia di dalam susu akan lebih intensif jika sudah terjadi kontaminasi mikroorganisme ke dalam susu yang kemudian akan diikuti oleh kerusakan pada susu sehingga tidak dapat dikonsumsi lagi. Reaksi kimia yang terjadi sehingga menimbulkan perubahan-perubahan yang terjadi pada susu bisa berlangsung cepat, bisa pula berlangsung lambat tergantung kondisi lingkungan baik di dalam maupun di luar susu.

Selain itu, susu juga termasuk bahan pangan yang kaya akan protein. Susu mudah dijumpai di masyarakat baik dalam keadaan segar maupun dalam bentuk olahannya. Produk olahan susu ini bisa berasal dari produk peternakan susu berupa makanan dan minuman, baik susu sapi maupun susu kerbau. Berdasarkan kandungan lemak yang terdapat di dalamnya, produk olahan susu dapat dibedakan menjadi beberapa tipe yaitu susu murni, susu rendah lemak, dan susu bebas lemak atau susu skim.

Salam N. Aritonang dalam bukunya Susu dan Teknologi (2017) menulis berbagai mikroorganisme yang sering merusak susu, sehingga susu tersebut mengalami kontaminasi. Beberapa alternatif yang dijadikan untuk mengontaminasi susu oleh mikroorganisme menurutnya antara lain: kelenjer susu, badan sapi, kambing ataupun kerbau, udara, peralatan susu, dan pemerah.

a. Kelenjer Susu

Sejak berada di dalam tubuh ternak, yaitu di dalam kelenjer susu, susu sudah dapat terkontaminasi, dimana di dalam saluran kelenjer susu (putting) akan ditemukan mikroorganisme yang dapat menimbulkan kerusakan pada susu. Untuk itu cara yang dilakukan dalam mengurangi jumlah mikroorganisme susu pada waktu memerah adalah dengan membuang pancaran pertama dari susu. Adapun jumlah bakteri dari kelenjer susu sekitar 500 – 1000/ml, yang umumnya dari golongan Micrococcus. Kelenjer  susu juga dapat menjadi media dalam penularan penyakit kepada yang mengonsumsinya. Penyakit yang dapat ditularkan melalui kelenjer susu adalah seperti Tuberculosis (TBC), Mastitis, dan Brucelosis yang kelak dapat menular pada manusia yang mengonsumsinya.

b. Badan Sapi, Kambing atau Kerbau

Mulai dari ujung kepala sampai ujung ekor dari tubuh seekor hewan ternak betina, bisa menjadi penyebab terkontaminasinya susu, terlebih jika tubuh hewan tersebut dalam keadaan kotor. Untuk itu hewan ternak betina harus selalu dimandikan atau minimal dibersihkan di sekitar ambing pada saat susu akan diperah, jika tidak maka jumlah mikroorganisme pada badan susu akan bertambah banyak yang juga dapat mengontaminasi susu. Hewan ternak betina yang tampaknya bersih ternyata masih mengontaminasi susu sebanyak 10.000/ml. Mikroorganisme yang sering ditemukan pada badan sapi, kambing ataupun kerbau umumnya dari golongan Escherichia dan Aerobacter.

c. Udara

Ada berbagai jenis mikroorganisme yang dapat ditemukan di udara dan dibawa oleh angin dan dapat mengontaminasi susu. Namun, dari sekian jenis mikroorganisme tersebut yang paling dominan dalam mengontaminasi susu umumnya dari golongan jamur dan Bacillus subtilis.

d. Peralatan Susu

Semua peralatan yang dipakai sehubungan dengan susu dapat menjadi sumber mikroorganisme dalam mengontaminasi susu. Peralatan yang kotor merupakan sumber mikroorganisme yang dapat mengontaminasi susu sampai jutaan per ml susu. Oleh karena itu kebersihan alat-alat mutlak diperlukan. Alat-alat yang meskipun sudah dibersihkan tetapi susah kering harus dihindarkan, karena pada tempat yang basah apalagi masih ditemukan sisa-sisa susu maka bakteri akan berkembang dengan subur. Mikroorganisme yang sering ditemukan pada peralatan susu adalah golongan Streptococcus lactis.

Peralatan susu sebaiknya terbuat dari stainless steel (baja anti karat) karena selain mudah dibersihkan juga dapat mempertahankan susu tetap dingin, namun harganya mahal. Maka, penggunaan alat-alat penampung susu yang terdiri dari bahan kayu, karena berporous dan susah membersihkannya perlu dihindari sehingga kuman-kuman mudah sekali berkembang. Jangan pula mempergunakan peralatan dari bahan zink sebab mudah berkarat dan memberi bau logam.

e. Pemerah

Kebersihan dan kesehatan pemerah berpengaruh terhadap kebersihan susu. Pemerah yang kotor baik tangan maupun pakaiannya dapat mengontaminasi susu, yang umumnya disebabkan oleh adanya Streptococcus. Pemerah yang tidak sehat dan mengidap penyakit menular dapat mengontaminasi susu, juga dapat menularkannya pada konsumen yang mengkonsumsinya. Untuk itu, pemerah yang sedang sakit sebaiknya diistirahatkan dari pekerjaan memerah sehingga tidak membuat susu tersebut terkontaminasi oleh penyakit yang ada pada si pemerah tersebut.

Kontaminasi susu dapat diminimalkan dengan memperbaiki proses penerimaan susu segar, penanganan, pemrosesan, penyimpanan sampai konsumsi. Susu yang aman dikonsumsi berasal dari hewan ternak betina yang sehat dan diproses dengan pasteurisasi atau ultra high temperature (UHT), penggunaan bakteriosin, dan pencucian peralatan dengan neutral electrolysed water (NEW). Keracunan setelah minum susu dapat dihindari dengan tidak mengonsumsi susu mentah dan susu yang telah berubah penampilannya secara fisik maupun organoleptis.

*Rizki Maulana Syukri, Mahasiswa Program Studi Teknologi Industri Pertanian.

Potensi Tanaman Kelor untuk Mengatasi Malnutrisi di Indonesia

Tanaman kelor (Moringa oleifera) merupakan tanaman yang mudah tumbuh di daerah tropis salah satunya adalah di Indonesia. Tanaman kelor ini adalah tanaman perdu dengan ketinggian 7-11 meter sampai ketinggian 700 m di atas permukaan laut. Tanaman kelor ini pun mampu mengatasi musim kering hingga 6 bulan serta mudah dibiakkan dan tidak memerlukan perawatan yang intensif dan dapat tumbuh di daerah tropis maupun subtropis (Syarifah et al., 2015).

Masyarakat di Sulawesi Selatan penduduknya hampir mempunyai tanaman kelor di setiap rumahnya karena tanaman kelor ini sudah menjadi kebiasaan masyarakat Sulawesi Selatan untuk mengkonsumsi sehari-hari dan ingin mengoptimalkan tanaman kelor untuk peganti sayuran dikarenakan tanaman kelor ini mudah untuk di budidayakan dan juga jarang terkena hama sehingga aman dari bahan-bahan kimia seperti pestisida jika dibandingkan dengan sayuran lain ketika di daratan tinggi seperti sawi dan lain-lain. (Isnan 2017).

Kandungan super nutrisi kelor salah satu hal yang membuat kelor menjadi perhatian di dunia dan memberikan sebagai tanaman sumber nutrisi yang dapat menyelamatkan masyarakat dari kekurangan gizi. Kelor yang kaya dengan nutrisi sehingga senyawa yang berada di tubuh manusia akan menjadi bugar, seluruh bagian tanaman kelor bisa digunakan dan dimanfaatkan untuk menjaga dan meningkatkan kualitas kesehatan manusia terutama asupan gizi bagi keluarga dan kelor merupakan salah satu nutrisi yang mempunyai kelipatan dengan makanan sumber nutrisi lainnya. (Krisnadi 2015).

Daun kelor memiliki fungsi salah satu aktivitas antioksidan tinggi berdasarkan uji fitokimia, daun kelor mengandung alkaloid flavonoid, tannin, saponin, antarquinon, sterorid dan triterpenoid yang merupakan antioksidan. Salah satu flavonoid yang dimiliki kelor yaitu kuersetin yang memiliki kekuatan antioksidan 4-5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan vitamin C dan vitamin E (Djamil 2017).

Tabel 1. Kandungan nilai gizi daun kelor segar dan kering.

Komponen gizi Daun segar Daun kering
Kadar air (%) 75,0 7,50
Protein (gram) 6,7 27,1
Lemak (gram) 1,7 2,3
Karbohidrat (gram) 13,4 38,2
Serat (gram) 0,9 19,2
Kalsium (mg) 440,0 2003,0
Magnesium (mg) 24,0 368,0
Fosfor (mg) 70,0 204,0
Vitamin A (mg) 6,80 16,3
Vitamin B (mg) 0,21 2,6
Vitamin C (mg) 220,00 17,3

Sumber : Krisnadi (2015).

Kandungan super nutrisi kelor salah satu hal yang membuat kelor menjadi perhatian di dunia dan memberikan sebagai tanaman sumber nutrisi yang dapat menyelamatkan masyarakat dari kekurangan gizi. Kelor yang kaya dengan nutrisi sehingga senyawa yang berada di tubuh manusia akan menjadi bugar, seluruh bagian tanaman kelor bisa digunakan dan dimanfaatkan untuk menjaga dan meningkatkan kualitas kesehatan manusia terutama asupan gizi bagi keluarga dan kelor merupakan salah satu nutrisi yang mempunyai kelipatan dengan makanan sumber nutrisi lainnya. (Krisnadi 2015).

Klasifikasi tanaman kelor (Moringa oleifera Lamk) menurut Krisnadi 2015 adalah sebagai berikut:

Kingdom: Plantae (Tumbuhan) Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji) Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua/dikotil) Sub Kelas: Dilleniidae Ordo: Capparales Famili: Moringaceae Genus: Moringa Spesies: Moringa oleifera Lam

Adapun terkait pengujian daun kelor Antioksidan bagi kesehatan tubuh menurut Nanda di dalam link webnya yaitu fungsi utama antioksidan adalah mendonorkan elektron pada elektron tidak berpasangan yang terdapat di molekul radikal bebas, mencegah elektron bebas tersebut untuk menarik elektron dari sel tubuh yang sehat. Yang istimewa dari kerja antioksidan adalah setelah memberikan elektron, antioksidan tidak akan berubah menjadi radikal bebas seperti jika sel lain yang memberi elektron. Sehingga kerja antioksidan seperti menetralisir sifat reaktif molekul radikal bebas.

Menurut Noya terdapat beragam jenis antioksidan. Tiap jenis antioksidan bekerja dengan cara yang berbeda, untuk melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan. Vitamin C diketahui dapat mencegah kerusakan dengan menangkap dan menetralisasi radikal bebas, sementara vitamin E dapat memecah rantai radikal bebas. Flavonoid merupakan antioksidan yang terdapat pada berbagai jenis makanan dan merupakan bagian terbesar dari antioksidan. Beberapa sayur dan buah mengandung antioksidan lebih tinggi dibandingkan yang lain. Contoh antioksidan yang digunakan tubuh adalah vitamin C, E, dan betakaroten. Ketiganya banyak terkandung dalam buah dan sayur berwarna merah, oranye, kuning, dan ungu.

Pengujian aktivitas antioksidan pada ekstrak daun kelor dengan metode pengujian menggunakan 1,1-difenil-2- pikrilhidrazil (DPPH). Metode uji antioksidan menggunakan DPPH adalah salah satu metode uji kuantitatif untuk menentukan daya aktivitas daun kelor sebagai antioksidan. Metode DPPH ini dipilih karena merupakan metode yang sederhana, mudah, cepat dan peka serta hanya memerlukan sedikit sampel untuk evaluasi aktivitas antioksidan dari senyawa bahan alam (Molyneux, 2004).

Prinsip pengukuran aktivitas antioksidan secara kuantitatif menggunakan metode DPPH ini adalah adanya perubahan intensitas warna ungu DPPH yang sebanding dengan konsentrasi larutan DPPH tersebut. Radikal bebas DPPH yang memiliki elektron tidak berpasangan akan memberikan warna ungu. Warna akan berubah menjadi kuning saat elektronnya berpasangan. Perubahan intensitas warna ungu ini terjadi karena adanya peredaman radikal bebas yang dihasilkan oleh bereaksinya molekul DPPH dengan atom hidrogen yang dilepaskan oleh molekul senyawa sampel sehingga terbentuk senyawa difenil pikril hidrazin dan menyebabkan terjadinya peluruhan warna DPPH dari ungu ke kuning.  Perubahan warna ini akan memberikan perubahan absorbansi pada panjang gelombang maksimum DPPH menggunakan spektrofotometer UV-Vis sehingga akan diketahui nilai aktivitas peredaman radikal bebas yang dinyatakan dengan nilai IC50 (Inhibitory concentration). Nilai IC50 didefinisikan sebagai besarnya konsentrasi senyawa uji yang dapat meredam radikal bebas sebanyak 50% Semakin kecil nilai IC50 maka aktivitas peredaman radikal bebas semakin tinggi. Pengukuran aktivitas antioksidan secara spektrofotometer dilakukan pada panjang gelombang 517 nm, yang merupakan panjang gelombang maksimum DPPH. Panjang gelombang maksimum ini memberikan serapan paling maksimal dari larutan uji dan memberikan kepekaan paling besar (Rizkayanti, dkk., 2017).

Menurut Ozcelik, dkk. (2003), senyawa DPPH sensitif terhadap beberapa basa Lewis dan jenis pelarut, serta oksigen. Metode DPPH didasarkan pada penurunan nilai absorbansi akibat perubahan warna larutan.

*Sofyan Hariyadi, Mahasiswa Program Studi Teknologi Industri Pertanian Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia.

Telur Tebu

Tebu telur (Saccharum edule) atau disebut Terubuk, dan tebu telor adalah jenis sayur-sayuran yang mirip dengan tebu. Bagian tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai sayuran adalah pucuknya. Namun, bunganya juga dimanfaatkan sebagai sayuran. Tetapi, pucuknya kelihatan aneh karena begitu sudah dewasa, pucuknya tersebut membengkak. Begitu dikupas, ternyata tebu telur tersebut berisi semacam ekor yang berwarna putih kekuning-kuningan, seperti sekumpulan telur ikan Karena itu, ia disebut tebu telur (ikan).

                        Mungkin masyarakat perkotaan jarang atau malah tidak tahu jenis sayuran ini. Karena memang sudah jarang ada dipasar-pasar tradisional yg ada diperkotaan apalagi di super market yg ada sekarang.

            Dari diskusi yang saya lakukan bersama kelompok tani yg sedang saya damping saat ini, tanaman ini sangat mudah dibudidayakan melalui cara stek atau penanaman potongan batang pohon yg sudah ada. Lalu tanaman ini pun tidak memerlukan lahan yg sangat subur sekali untuk  dilakukan  penanaman  karena  di  tanah yg kurang subur tanaman ini dapat tumbuh cukup baik, dan juga tanaman ini tidak memerlukan lahan yg luas bisa ditumpangsarikan dengan lahan yg tersedia yg ada dilokasi contohnya bisa dijadikan pagar hidup dipekarangan rumah atau perkebunan, dapat ditanam juga di pematang sawah atau pematang kolam-kolam ikan.  Dan  tanaman  terubuk  ini dapat menjadi siklus perputaran uang yg cepat di bidang pertanian karena jika sudah tumbuh dengan baik dapat dipanen dalam 1 minggu sekali.

Meskipun terubuk sering dibilang sayur ‘ndeso’, bunga tebu ini ternyata kaya akan nutrisi dan zat-zat yang baik dan bermanfaat bagi tubuh. Kandungan mineralnya cukup tinggi terutama kalsium dan fosfor disamping vitamin C yang tak kalah tinggi. Biasanya terubuk yang biasa dimakan adalah yang berusia sekitar lima bulan. Bagian yang dipanen adalah bagian  ‘malai’  yang  masih  muda,  sedangkan yang dikonsumsi adalah bagian bunga yang terbungkus dengan pelepah daun atau dikenal dengan istilah kelobot.Terubuk biasa dimakan dalam bentuk mentah sebagai lalaban, dikukus atau ditumis. Selain itu, terubuk juga biasa dimasak menjadi sayur lodeh, sebagai campuran kare, dan juga sayur asem. Namun ada juga yang mengkonsumsi dengan cara digoreng dengan menggunakan tepung atau dibuat perkedel

Dengan kata sederhana yg penulis bisa sampaikan produk dari tanaman ini bisa menjadi makanan yg dapat memenuhi gizi masyarakat yg mengkomsumsi produk ini dengan rutin.B

 

*Fatchur Rachman Chaulah, Mahasiswa Program Studi Teknologi Industri Pertanian.

Manisan dari Buah Nanas

Di Indonesia, para petani lebih cenderung menjual hasil panennya langsung ketimbang mencoba berinisiatif  meningkatkan nilai tambah hasil panen dengan sedikit mengolahnya menjadi semacam produk yang layak dipasarkan.  Padahal, potensi tersebut sangatlah besar kalau menilik sumber daya alam Indonesia yang melimpah ruah. Namun, keterbatasan sumber informasi dan pengetahuan membuat mereka tak punya pilihan lain..

Salah satu pedagang buah-buahan di sekitar kampus Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta, misalnya. Berbagai macam buah-buahan dijual seperti buah nanas. Nanas (Ananas Comosus) merupakan buah-buahan yang dapat dijumpai di iklim tropis yang tumbuh tidak mengenal musim. Gizi yang bisa didapatkan dari buah ini antara lain:  vitamin C, vitamin B6, dan vitamin B1, serta folat. Secara alami, buah nanas memiliki kandungan yang kaya akan serat. Fungsi kaya serat ini baik untuk meningkatkan sistem pencernaan. Biasanya, makanan yang tinggi serat agak susah larut dicerna, tapi tidak dengan buah nanas. Sedangkan sistem pencernaan bisa dikatakan normal apabila mengonsumsi 14 gram total serat dari 1000 kalori per harinya, dan buah nanas mampu memenuhi kebutuhan tersebut. Buah nanas juga memiliki sejumlah kandungan vitamin dan mineral yang mampu menyerap air pada usus manusia.

Buah nanas yang dijual oleh pedagang ini telah dia kembangkan menjadi semacam produk yang siap jual. Namun, sebelum produknya dijual ke konsumen, buah nanas tersebut dibeli di pasar Keramat Jati dengan harga Rp. 12.000 – 15.000 per buahnya. Kemudian, buah nanas tadi dikupas sampai bersih hingga semua matanya hilang, lalu dipotong menjadi beberapa bagian, mulai dari 4-8 bagian.  Lantas, buah nanas yang sudah  menjadi beberapa bagian tadi dimasukkan dalam sebuah plastik bening berbentuk persegi panjang. Dengan demikian, potongan-potongan buah nanas tadi sudah siap dijual ke konsumen seharga Rp. 3000 per potongnya.

Sebenarnya buah nanas sangat lezat untuk dikonsumsi baik dalam keadaan mentah maupun diolah terlebih dahulu. Salah satu contohnya adalah dengan mengolah buah nanas menjadi semacam manisan atau manisan nanas. Sebab, di pasaran, manisan nanas merupakan salah satu produk yang masih cukup sedikit dijual namun permintaan selalu ada. Selain itu, membuat manisan ini pun bisa dilakukan di rumah. Karena proses pembuatan dan bahan-bahan yang diperlukan untuk pembuatan manisan nanas ini cukuplah mudah. Adapaun bahan-bahan yang dimaksud seperti:  buah nanas yang tidak terlalu matang, 300 gram gula pasir, satu sendok teh garam dapur, satu sendok makan kapur sirih, dan air secukupnya. Dengan begitu, para petani tidak lagi menjual langsung hasil panennya, tapi cukup dengan mengembangkan hasil panennya di rumah, terlebih buah nanas. Kemudian menjualnya bisa lewat online ataupun offline, atau agar lebih efektif bisa dengan cara keduanya.

Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa buah nanas memiliki peluang bisnis yang besar terutama di Indonesia yang beriklim tropis. Lagipula buah-buahan ini juga berbuah tidak mengenal musim dan bisa berbuah kapan saja. Untuk itulah, para petani tidak harus belajar menanam terus, tapi bagaimana mereka mengolah hasil panennya menjadi sebuah produk untuk memperoleh nilai ekonomis yang lebih tinggi.

*Rizki Maulana Syukri. Fakultas Teknik, Jurusan Teknologi Industri Pertanian di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia, Jakarta.

Tulisan tersebut adalah sebuah tugas paper mata kuliah Pengetahuan Bahan-bahan Agroindustri yang diampu oleh bapak Sukamto Javaladi.

Minyak Kelapa Sawit : inkonsistensi dan distorsinya

Kelapa sawit (Elaeis) adalah tumbuhan industri penting penghasil minyak masak, minyak industri, maupun bahan bakar (biodiesel). Perkebunannya menghasilkan keuntungan besar sehingga banyak hutan dan perkebunan lama dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit. Indonesia adalah penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Di Indonesia penyebarannya di daerah Aceh, pantai timur Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi.

Kelapa sawit didatangkan ke Indonesia oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1848. Beberapa bijinya ditanam di kebun Raya Bogor, sementara sisa benihnya ditanam di tepi-tepi jalan sebagai tanaman hias di Deli, Sumatera Utara pada tahun 1870-an. Pada saat yang bersamaan meningkatlah permintaan minyak nabati akibat Revolusi Industri pertengahan abad ke-19. Dari sini kemudian muncul ide membuat perkebunan kelapa sawit berdasarkan tumbuhan seleksi dari Bogor dan Deli, maka dikenallah jenis sawit “Deli Dura”.

Dilansir dari CNBC Indonesia, perang dagang Amerika Serikat China mulai berdampak ke industri minyak sawit. Seperti diketahui, AS mengenakan tarif tinggi ke sejumlah produk China. Kebijakan itu kemudian dibalas dengan China salah satunya dengan mengurangi pembelian kedelai dari AS. Akibatnya stok kedelai di AS menumpuk, dan di sisi lain China telah menyediakan stok banyak kedelai di dalam negerinya. Melimpahnya stok kedelai di AS dan permintaan pasar global yang lemah membuat harga jatuh. Di saat yang bersamaan, stok minyak nabati seperti rapeseed, bunga matahari dan minyak sawit juga melimpah.

Pemerintah sebisa mungkin sudah perlu membuat kebijakan untuk meningkatkan konsumsi di dalam negeri dengan menggalakan penggunaan biodiesel yang lebih banyak, mandatori Biodiesel sudah waktunya diterapkan kepada non-PSO untuk mendongkrak konsumsi di dalam negeri. Jika konsumsi di dalam negeri tinggi maka stok akan terjaga sehingga harga di pasar global tidak anjlok karena stok yang melimpah.

Di samping itu, menilik informasi dari liputan6.com (24/11/2017) tentang inkonsistensi dan distorsi minyak kelapa sawit, Maskapai KLM (Koninklijke Luchtvaart Maatschappij) atau maskapai penerbangan nasional Belanda diprotes oleh Council of Palm Oil Producing Countries (CPOCC) atau Organisasi Negara Produsen Kelapa Sawit karena dinilai telah menyerukan kampanye negatif penggunaan minyak kelapa sawit asal Indonesia. Protes ini disampaikan CPOCC dalam surat yang ditujukan ke CEO KLM, Pieter Elbers. Dalam suratnya, CPOCC yang diwakilkan oleh Direktur Eksekutif Mahendra Siregar menegaskan bahwa kebijakan yang dilakukan KLM tidak mendasar. Ajakan untuk menggunakan minyak sawit dimuat KLM dalam majalah perusahaannya. Dia juga menjelaskan bahwa kebijakan yang diterapkan oleh KLM nampaknya agak salah arah dan tidak mengetahui perkembangan terkini pasar minyak nabati global, khususnya yang terkait dengan isu lingkungan. Permintaan minyak nabati yang tinggi hanya bisa dipenuhi dengan memanfaatkan produktivitas kelapa sawit. Hal ini dikarenakan kelapa sawit yang bisa memproduksi minyak nabati lebih tinggi dibanding sumber minyak nabati lainnya seperti rape seed, kacang kedelai atau bunga matahari.

Supermarket di Inggris pun melarang produk minyak kelapa sawit. Jaringan pertokoan nasional yang bermarkas di Deeside sekitar empat jam perjalanan mobil dari London akan menjadi supermarket besar pertama Inggris yang melarang kandungan minyak kelapa sawit, yang selama ini dipakai pada lebih dari setengah produknya, mulai dari biskuit sampai sabun. Iceland menyatakan peningkatan permintaan akan minyak tersebut sangat merusak hutan tropis Asia Tenggara. Spesialis makanan beku ini menyatakan kesadaran akan tantangan lingkungan minyak kelapa sawit muncul karena adanya aksi dari para pegiat lingkungan Greenpeace. Larangan hanya berlaku bagi barang-barang dengan merek Iceland, yang berarti produk yang dijual pengecer lain di jaringan pertokoannya mungkin saja tetap mengandung sawit. Direktur Iceland, Richard Walker, menegaskan ‘tidak ada minyak kelapa sawit yang berkesinambungan. Minyak kelapa sawit bersertifikat saat ini tidak membatasi deforestasi dan tidak membatasi perkebunan minyak kelapa sawit. Jadi, lanjut Walker, selama belum ada minyak kelapa sawit yang benar-benar berkesinambungan, yang sama sekali bukan dari deforestasi, kami mengatakan tidak kepada minyak kelapa sawit.

*Istikbal, Mahasiswa Program Studi Teknologi Industri Pertanian.

Strategi Pengembangan Industri Gula Nasional Untuk Kesejahteraan Petani Tebu

Indonesia merupakan negara importir gula terbesar di dunia dengan nilai impor sebesar 4,45 juta ton. Impor gula Indonesia mengungguli China, negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia dengan mempunyai nilai impor gula 4,2 juta ton dan Amerika dengan nilai impor gula 3,11 juta ton.

Grafik 1. Negara Pengimpor Gula Terbesar Sepanjang 2017/2018 (dalam juta ton)

Kondisi situasi saat ini produksi gula nasional 2,5 juta ton dengan areal tebu 450 ribu Ha dan produktivitas gula mencapai 5,5 ton/Ha. Target produksi gula pemerintah tahun 2019/2020 adalah 3,3 juta ton dengan areal tebu 505 ribu Ha dan nilai produktivitas gula 6 ton/Ha (Direktorat Jenderal Perkebunan Kementan, 2017). Dari hasil analisis situasi di atas ada selisih antara produksi gula saat ini dengan target dari pemerintah. Ada 3 strategi yang dapat dilakukan dalam kerangka pengembangan industri gula nasional yang dijiwai dengan semangat untuk meningkatkan kesejahteraan petani tebu nasional.

Strategi pertama yang dapat dilakukan untuk mencapai target produksi gula nasional secara teknis yaitu dengan intensifikasi pertanian dan ekstensifikasi pertanian. Intensifikasi pertanian yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi gula yaitu dengan: (1) melakukan irigasi sederhana (sumur dalam/drip irrigation) pada lahan kering (2) melakukan rekayasa teknis untuk tanah yang kurang sesuai untuk tanaman tebu (3) melakukan bimbingan teknis untuk bongkar raton dan penyediaan input dan kredit bagi petani sebagai upaya untuk menjaga kesanggupan petani menanam tebu (4) melakukan mekanisasi kelompok hamparan  dan pengembangan Usaha Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA)  sebagai upaya pemenuhan tenaga kerja dalam perkebunan tebu yang semakin lama semakin berkurang. Dalam bidang ekstensifikasi pertanian dapat dilakukan beberapa upaya yaitu dengan cara: (1) sewa lahan yaitu dengan melakukan kerja sama pemanfaatan lahan Perhutani, (2) mengembalikan areal tebu rakyat, (3) perluasan areal tebu rakyat baru, (4) melakukan perluasan areal PG baru di luar Jawa.

Di samping melakukan upaya teknis untuk meningkatkan produksi gula nasional, Strategi kedua merupakan peran pemerintah/stakeholder sebagai komitmen untuk meningkatkan produksi gula nasional. Kebijakan yang dapat diambil pemerintah terkait dengan peningkatan produksi gula yaitu dengan melakukan penataan Pabrik Gula (PG) BUMN dengan kapasitas minimal 4.000 Ton Cane Per Day (TCD) agar pabrik lebih efisien (OR/Overall Recovery minimal 80%); adanya pengaturan perwilayahan kerja PG; transparansi penetapan randemen; sistem beli putus tebu yang memudahkan pelaksanaan stabilisasi harga dan meningkatkan pendapatan petani sebagai salah satu usaha mengembalikan minat petani dalam menanam tebu; mendorong pembangunan PG baru khususnya di luar pulau Jawa, dimana PG baru harus terintegrasi dengan industri hilirnya; dan mendorong pembangunan PG rafinasi. Strategi tersebut diperlukan untuk memenuhi kebutuhan industri makanan dan minuman yang semakin meningkat setiap tahunnya, namun kapasitas produksinya tidak bertambah dan disorong untuk membangun PG baru yang terintegrasi dengan perkebunan tebu dengan mutu SN1 dan SN2. Kebijakan berikutnya yang berkaitan dengan peningkatan motivasi petani dalam melakukan usaha tani tebu adalah dengan pemberian insentif, hal ini mengingat bahwa kesulitan perolehan lahan untuk perkebunan tebu dan tingginya investasi pembangunan PG baru sehingga return of investment sangat lama, maka diperlukan fasilitas yang akan membuat investor tertarik untuk membangun pabrik gula baru baik di Pulau Jawa maupun di luar Jawa.

Dengan dikeluarkan Peraturan Menteri Perindustrian No.10 Tahun 2017 yang memberikan fasilitas impor Gula Mentah untuk PG baru dan PG lama yang melakukan investasi peningkatan kapasitas atau perluasan produksi diharapkan menjadi salah satu solusi menuju akselerasi peningkatan produksi gula nasional; impor yang nantinya diberikan juga akan memperhitungkan neraca gula nasional sehingga tidak akan menyebabkan kelebihan stok yang dapat menyebabkan pertentangan dengan petani tebu. Permenperin ini justru akan membantu petani menjadi lebih sejahtera karena terdapat syarat lahan dan kapasitas produksi minimal berbasis tebu yang harus dipenuhi perusahaan. Kebijakan berikutnya yaitu mengamankan harga gula sebagai satu dari sembilan bahan pokok yang harga dan ketersediaannya diatur oleh pemerintah, dengan melakukan stabilisasi harga gula nasional. Pemerintah perlu melakukan kebijakan perlindungan harga gula melalui mekanisme Bulog. Dimana perlu meningkatkan peran BULOG pada penentuan harga gula di pasaran, sehingga terdapat kepastian pembelian gula petani yang tidak terserap pasar dengan harga wajar.

Strategi ketiga pengembangan industri gula nasional yang tidak boleh dikesampingkan yaitu dengan melakukan optimalisasi peran Pusat Penelitian dan Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) dan kerja sama dengan akademisi di Lembaga Penelitian dan Pengabdian di Universitas untuk melakukan terobosan-terobosan dalam bidang penelitian dan pengembangan tebu. Penelitian dimaksudkan menyediakan informasi yang akurat kepada petani dan stakeholder dalam pengambilan langkah teknis dan strategi kebijakan yang akan diambil untuk meningkatan produksi gula nasional yang selaras dengan peningkatan kesejahteraan petani tebu. Di sisi lain, penelitian tebu dimaksudkan untuk menentukan tingkat intervensi stakeholder serta penetapan metode pelayanannya dengan memperdalam dan mempertajam pemahaman terhadap peningkatan produksi gula nasional yang berpihak pada kesejahteraan petani tebu.

*Adrinoviarini, Dosen Teknologi Agroindustri UNUSIA Jakarta. Pemerhati Lingkungan Hidup dan Analis Kebijakan Pertanian. Email: ririn@unusia.ac.id

Bioplastik Solusi Limbah Plastik

Seekor paus sperma (Physeter microcephalus) terdampar di Pulau Kapota, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Paus dengan Panjang 9,5 meter dan lebar 1,85 meter ditemukan dalam keadaan menjadi bangkai dengan kondisi perut yang berisi 19 buah plastik keras seberat 140 g, 4 botol plastik seberat 150 g, 25 buah kantong plastik seberat 260 g, sepasang sandal jepit seberat 270 g, tali raffia seberat 3,6 kg dan gelas-gelas plastik. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Greenpeace Indonesia mengatakan bahwa kasus tersebut merupakan salah satu contoh kasus dari sejumlah peristiwa pencemaran akibat sampah plastik.

Sejalan dengan isu-isu mengenai sampah global,  Nahdlatul Ulama melalui Munas Alim Ulama dan Konbes NU Tahun 2019 yang diselenggarakan di Ponpes Miftahul Huda Al-Azhar, Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat pada tanggal 27 Februari sampai 1 Maret 2019 melalui sambutan Katua Umum PBNU, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA menyampaikan keprihatinan dengan status Indonesia yang ditengarai sebagai penghasil limbah plastik terbesar kedua di dunia setelah China. Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tahun 2018 dalam satu hari, rata-rata masyarakat Indonesia menghasilkan 130.000 ton sampah. Dari sampah yang diproduksi setiap hari tersebut, hanya separuh yang dibuang dan dikelola di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Sisanya dibakar secara illegal atau dibuang ke sungai dan laut yang merusak ekosistem. Ketika sampah mikroplastik berubah menjadi nanoplastik dan kemudian dimakan ikan dan seterusnya dikonsumsi manusia, limbah plastik telah menjadi ancaman nyata bagi kesehatan manusia dan lingkungan.

Bioplastik adalah plastik yang dapat digunakan layaknya plastik konvensional, namun akan hancur terurai oleh aktivitas mikroorganisme menjadi hasil akhir air dan gas karbondioksida setelah habis terpakai dan dibuang ke lingkungan. Karena sifatnya yang dapat kembali ke alam, plastik biodegradabel merupakan bahan plastik yang ramah lingkungan. Bioplastik adalah polmer yang dapat berubah menjadi biomassa H2O, CO2 dan atau CH4 melalui tahapan depolimerisasi dan mineralisasi.

Aveorus dalam Biocomposite based on plasticsize starch: thermal and mechanical behaviours. Carbohidrates polymers (2008) mengelompokkan bioplastik menjadi  dua kelompok dan 4 keluarga yang berbeda. Kelompok utama adalah: (1) agro-polymer yang terdiri dari polisakarida, protein dan sebagainya; dan (2) biopolister seperti poli asam laktat (PLA), polyhydroxyalkanote (PHA), aromatik dan alfatik co-poliester. Biopolimer yang tergolong agro polimer adalah produk-produk biomassa yang diperoleh dari bahan-bahan pertanian seperti polisakarida, protein dan lemak. Sedangkan bioplastik dibagi lagi berdasarkan sumbernya, yaitu kelompok Polyhydroxy-alkanoate (PHA) didapatkan dari aktivitas mikroorganisme yang didapatkan dengan cara ekstraksi. Contoh PHA di antaranya Polyqidroxybutyrate (PHB) dan PolyQidroxybutyrate co-hydroxyvalerate (PHBV). Kelompok lain adalah bioplastik yang diperoleh dari aplikasi bioteknologi, yaitu dengan sintesis secara konvensional monomer-monomer yang diperoleh secara biologi, yang disebut kelompok polilaktida. Contoh polilaktida adalah poli asam laktat. Kelompok terakhir diperoleh dari produk-produk petrokimia yang disintesis secara konvensional dari monomer-monomer sintesis. Kelompok ini terdiri dari polycarpolactones (PCL), poly ester amides, alphatic co-polyesters dan aromatic co-polyester.

Salah satu contoh biopolimer yang tergolong agro polimer adalah pati. Pati merupakan suatu senyawa karbohidrat kompleks dengan ikatan a-glokosidik. Pati dihasilkan oleh tumbuhan untuk menyimpan kelebihan glukosa (sebagai produk fotosintesis) dalam jangka panjang. Pati yang diproduksi secara komersial biasanya didapatkan dari jagung, gandum, beras dan tanaman-tanaman umbi seperti kentang, ubi kayu dan ubi jalar. Jagung (zea mays L.), gandum (Triticumaestivum L.) dan kentang (Solarium tuberosum L.) merupakan sumber utama dari pati, sedangkan padi (Oryza sativa L.), gandum (Hordeum vulgare L.), sagu (Cycas spp.), garut (Tacca leontopetaloides (L.) Kuntze) memberikan kontribusi dalam jumlah yang lebih kecil terhadap total produksi global. Prosentase kandungan pati dalam % tersaji dalam tabel yang diambil dari Food Carbohidrates Chemistry Physics, Properties and Application(2005) di bawah ini.

Sumber Food Carbohidrates Chemistry Physics, Properties and Application(2005): Kandungan pati pada beberapa bahan pangan

Di Indonesia penelitian dan pengembangan teknologi bioplastik sangat besar potensinya, mengingat biodiversitas hasil pertanian dan kelautan yang dimiliki. Indonesia merupkan negara produsen singkong terbesar ketiga di dunia dengan rata-rata produksi dalam 5 tahun terakhir adalah 24 juta ton/tahun. Potensi pengembangan bioplastik berbahan dasar singkong di indonesia sangat besar. Pati singkong merupakan salah satu polimer alami yang dapat digunakan untuk produksi bioplastik karena sifatnya yang mudah terdegradasi, melimpah dan terjangkau.

Pembuatan bioplastik dengan bahan dasar pati singkong pada dasarnya menggunakan prinsip gelatinisasi. Dengan adanya penambahan sejumlah air dan dipanaskan pada suhu yang tinggi maka akan terjadi gelatinisasi. Gelatinisasi mengakibatkan ikatan amilosa akan cenderung saling berdekatan karena adanya ikatan hidrogen. Proses pengeringan akan mengakibatkan penyusutan sebagai akibat lepasnya air sehingga gel akan membentuk bioplastik yang stabil. Saat ini banyak penelitian yang dikembangkan mengenai penggunaan tepung pati sebagai bioplastik. Penggunaan tepung pati sebagai polimer alami memiliki keterbatasan, diantaranya adalah sifat mekanik yang kurang baik, serta kemampuannya untuk menyerap air. Untuk mengatasi hal ini, maka dilakukan penelitian untuk memperbaiki sifat-sifat tersebut. Penelitian yang dikembangkan salah satunya adalah membuat komposit dengan menambahkan partikel untuk memperbaiki sifat-sifatnya, salah satunya dengan zeolit.

 

*Oleh Adrinoviarini, Dosen teknologi Agroindustri UNUSIA Jakarta, Pemerhati Lingkungan Hidup dan Analis Kebijakan Pertanian, Email: ririn@unusia.ac.id

 

 

 

 

E-LEARNING
E-LIBRARY