Home » Artikel » Potensi Tanaman Kelor untuk Mengatasi Malnutrisi di Indonesia

Potensi Tanaman Kelor untuk Mengatasi Malnutrisi di Indonesia

Tanaman kelor (Moringa oleifera) merupakan tanaman yang mudah tumbuh di daerah tropis salah satunya adalah di Indonesia. Tanaman kelor ini adalah tanaman perdu dengan ketinggian 7-11 meter sampai ketinggian 700 m di atas permukaan laut. Tanaman kelor ini pun mampu mengatasi musim kering hingga 6 bulan serta mudah dibiakkan dan tidak memerlukan perawatan yang intensif dan dapat tumbuh di daerah tropis maupun subtropis (Syarifah et al., 2015).

Masyarakat di Sulawesi Selatan penduduknya hampir mempunyai tanaman kelor di setiap rumahnya karena tanaman kelor ini sudah menjadi kebiasaan masyarakat Sulawesi Selatan untuk mengkonsumsi sehari-hari dan ingin mengoptimalkan tanaman kelor untuk peganti sayuran dikarenakan tanaman kelor ini mudah untuk di budidayakan dan juga jarang terkena hama sehingga aman dari bahan-bahan kimia seperti pestisida jika dibandingkan dengan sayuran lain ketika di daratan tinggi seperti sawi dan lain-lain. (Isnan 2017).

Kandungan super nutrisi kelor salah satu hal yang membuat kelor menjadi perhatian di dunia dan memberikan sebagai tanaman sumber nutrisi yang dapat menyelamatkan masyarakat dari kekurangan gizi. Kelor yang kaya dengan nutrisi sehingga senyawa yang berada di tubuh manusia akan menjadi bugar, seluruh bagian tanaman kelor bisa digunakan dan dimanfaatkan untuk menjaga dan meningkatkan kualitas kesehatan manusia terutama asupan gizi bagi keluarga dan kelor merupakan salah satu nutrisi yang mempunyai kelipatan dengan makanan sumber nutrisi lainnya. (Krisnadi 2015).

Daun kelor memiliki fungsi salah satu aktivitas antioksidan tinggi berdasarkan uji fitokimia, daun kelor mengandung alkaloid flavonoid, tannin, saponin, antarquinon, sterorid dan triterpenoid yang merupakan antioksidan. Salah satu flavonoid yang dimiliki kelor yaitu kuersetin yang memiliki kekuatan antioksidan 4-5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan vitamin C dan vitamin E (Djamil 2017).

Tabel 1. Kandungan nilai gizi daun kelor segar dan kering.

Komponen gizi Daun segar Daun kering
Kadar air (%) 75,0 7,50
Protein (gram) 6,7 27,1
Lemak (gram) 1,7 2,3
Karbohidrat (gram) 13,4 38,2
Serat (gram) 0,9 19,2
Kalsium (mg) 440,0 2003,0
Magnesium (mg) 24,0 368,0
Fosfor (mg) 70,0 204,0
Vitamin A (mg) 6,80 16,3
Vitamin B (mg) 0,21 2,6
Vitamin C (mg) 220,00 17,3

Sumber : Krisnadi (2015).

Kandungan super nutrisi kelor salah satu hal yang membuat kelor menjadi perhatian di dunia dan memberikan sebagai tanaman sumber nutrisi yang dapat menyelamatkan masyarakat dari kekurangan gizi. Kelor yang kaya dengan nutrisi sehingga senyawa yang berada di tubuh manusia akan menjadi bugar, seluruh bagian tanaman kelor bisa digunakan dan dimanfaatkan untuk menjaga dan meningkatkan kualitas kesehatan manusia terutama asupan gizi bagi keluarga dan kelor merupakan salah satu nutrisi yang mempunyai kelipatan dengan makanan sumber nutrisi lainnya. (Krisnadi 2015).

Klasifikasi tanaman kelor (Moringa oleifera Lamk) menurut Krisnadi 2015 adalah sebagai berikut:

Kingdom: Plantae (Tumbuhan) Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji) Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua/dikotil) Sub Kelas: Dilleniidae Ordo: Capparales Famili: Moringaceae Genus: Moringa Spesies: Moringa oleifera Lam

Adapun terkait pengujian daun kelor Antioksidan bagi kesehatan tubuh menurut Nanda di dalam link webnya yaitu fungsi utama antioksidan adalah mendonorkan elektron pada elektron tidak berpasangan yang terdapat di molekul radikal bebas, mencegah elektron bebas tersebut untuk menarik elektron dari sel tubuh yang sehat. Yang istimewa dari kerja antioksidan adalah setelah memberikan elektron, antioksidan tidak akan berubah menjadi radikal bebas seperti jika sel lain yang memberi elektron. Sehingga kerja antioksidan seperti menetralisir sifat reaktif molekul radikal bebas.

Menurut Noya terdapat beragam jenis antioksidan. Tiap jenis antioksidan bekerja dengan cara yang berbeda, untuk melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan. Vitamin C diketahui dapat mencegah kerusakan dengan menangkap dan menetralisasi radikal bebas, sementara vitamin E dapat memecah rantai radikal bebas. Flavonoid merupakan antioksidan yang terdapat pada berbagai jenis makanan dan merupakan bagian terbesar dari antioksidan. Beberapa sayur dan buah mengandung antioksidan lebih tinggi dibandingkan yang lain. Contoh antioksidan yang digunakan tubuh adalah vitamin C, E, dan betakaroten. Ketiganya banyak terkandung dalam buah dan sayur berwarna merah, oranye, kuning, dan ungu.

Pengujian aktivitas antioksidan pada ekstrak daun kelor dengan metode pengujian menggunakan 1,1-difenil-2- pikrilhidrazil (DPPH). Metode uji antioksidan menggunakan DPPH adalah salah satu metode uji kuantitatif untuk menentukan daya aktivitas daun kelor sebagai antioksidan. Metode DPPH ini dipilih karena merupakan metode yang sederhana, mudah, cepat dan peka serta hanya memerlukan sedikit sampel untuk evaluasi aktivitas antioksidan dari senyawa bahan alam (Molyneux, 2004).

Prinsip pengukuran aktivitas antioksidan secara kuantitatif menggunakan metode DPPH ini adalah adanya perubahan intensitas warna ungu DPPH yang sebanding dengan konsentrasi larutan DPPH tersebut. Radikal bebas DPPH yang memiliki elektron tidak berpasangan akan memberikan warna ungu. Warna akan berubah menjadi kuning saat elektronnya berpasangan. Perubahan intensitas warna ungu ini terjadi karena adanya peredaman radikal bebas yang dihasilkan oleh bereaksinya molekul DPPH dengan atom hidrogen yang dilepaskan oleh molekul senyawa sampel sehingga terbentuk senyawa difenil pikril hidrazin dan menyebabkan terjadinya peluruhan warna DPPH dari ungu ke kuning.  Perubahan warna ini akan memberikan perubahan absorbansi pada panjang gelombang maksimum DPPH menggunakan spektrofotometer UV-Vis sehingga akan diketahui nilai aktivitas peredaman radikal bebas yang dinyatakan dengan nilai IC50 (Inhibitory concentration). Nilai IC50 didefinisikan sebagai besarnya konsentrasi senyawa uji yang dapat meredam radikal bebas sebanyak 50% Semakin kecil nilai IC50 maka aktivitas peredaman radikal bebas semakin tinggi. Pengukuran aktivitas antioksidan secara spektrofotometer dilakukan pada panjang gelombang 517 nm, yang merupakan panjang gelombang maksimum DPPH. Panjang gelombang maksimum ini memberikan serapan paling maksimal dari larutan uji dan memberikan kepekaan paling besar (Rizkayanti, dkk., 2017).

Menurut Ozcelik, dkk. (2003), senyawa DPPH sensitif terhadap beberapa basa Lewis dan jenis pelarut, serta oksigen. Metode DPPH didasarkan pada penurunan nilai absorbansi akibat perubahan warna larutan.

*Sofyan Hariyadi, Mahasiswa Program Studi Teknologi Industri Pertanian Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia.


Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

E-LEARNING
E-LIBRARY