Home » Artikel » Bioplastik Solusi Limbah Plastik

Bioplastik Solusi Limbah Plastik

Seekor paus sperma (Physeter microcephalus) terdampar di Pulau Kapota, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Paus dengan Panjang 9,5 meter dan lebar 1,85 meter ditemukan dalam keadaan menjadi bangkai dengan kondisi perut yang berisi 19 buah plastik keras seberat 140 g, 4 botol plastik seberat 150 g, 25 buah kantong plastik seberat 260 g, sepasang sandal jepit seberat 270 g, tali raffia seberat 3,6 kg dan gelas-gelas plastik. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Greenpeace Indonesia mengatakan bahwa kasus tersebut merupakan salah satu contoh kasus dari sejumlah peristiwa pencemaran akibat sampah plastik.

Sejalan dengan isu-isu mengenai sampah global,  Nahdlatul Ulama melalui Munas Alim Ulama dan Konbes NU Tahun 2019 yang diselenggarakan di Ponpes Miftahul Huda Al-Azhar, Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat pada tanggal 27 Februari sampai 1 Maret 2019 melalui sambutan Katua Umum PBNU, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA menyampaikan keprihatinan dengan status Indonesia yang ditengarai sebagai penghasil limbah plastik terbesar kedua di dunia setelah China. Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tahun 2018 dalam satu hari, rata-rata masyarakat Indonesia menghasilkan 130.000 ton sampah. Dari sampah yang diproduksi setiap hari tersebut, hanya separuh yang dibuang dan dikelola di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Sisanya dibakar secara illegal atau dibuang ke sungai dan laut yang merusak ekosistem. Ketika sampah mikroplastik berubah menjadi nanoplastik dan kemudian dimakan ikan dan seterusnya dikonsumsi manusia, limbah plastik telah menjadi ancaman nyata bagi kesehatan manusia dan lingkungan.

Bioplastik adalah plastik yang dapat digunakan layaknya plastik konvensional, namun akan hancur terurai oleh aktivitas mikroorganisme menjadi hasil akhir air dan gas karbondioksida setelah habis terpakai dan dibuang ke lingkungan. Karena sifatnya yang dapat kembali ke alam, plastik biodegradabel merupakan bahan plastik yang ramah lingkungan. Bioplastik adalah polmer yang dapat berubah menjadi biomassa H2O, CO2 dan atau CH4 melalui tahapan depolimerisasi dan mineralisasi.

Aveorus dalam Biocomposite based on plasticsize starch: thermal and mechanical behaviours. Carbohidrates polymers (2008) mengelompokkan bioplastik menjadi  dua kelompok dan 4 keluarga yang berbeda. Kelompok utama adalah: (1) agro-polymer yang terdiri dari polisakarida, protein dan sebagainya; dan (2) biopolister seperti poli asam laktat (PLA), polyhydroxyalkanote (PHA), aromatik dan alfatik co-poliester. Biopolimer yang tergolong agro polimer adalah produk-produk biomassa yang diperoleh dari bahan-bahan pertanian seperti polisakarida, protein dan lemak. Sedangkan bioplastik dibagi lagi berdasarkan sumbernya, yaitu kelompok Polyhydroxy-alkanoate (PHA) didapatkan dari aktivitas mikroorganisme yang didapatkan dengan cara ekstraksi. Contoh PHA di antaranya Polyqidroxybutyrate (PHB) dan PolyQidroxybutyrate co-hydroxyvalerate (PHBV). Kelompok lain adalah bioplastik yang diperoleh dari aplikasi bioteknologi, yaitu dengan sintesis secara konvensional monomer-monomer yang diperoleh secara biologi, yang disebut kelompok polilaktida. Contoh polilaktida adalah poli asam laktat. Kelompok terakhir diperoleh dari produk-produk petrokimia yang disintesis secara konvensional dari monomer-monomer sintesis. Kelompok ini terdiri dari polycarpolactones (PCL), poly ester amides, alphatic co-polyesters dan aromatic co-polyester.

Salah satu contoh biopolimer yang tergolong agro polimer adalah pati. Pati merupakan suatu senyawa karbohidrat kompleks dengan ikatan a-glokosidik. Pati dihasilkan oleh tumbuhan untuk menyimpan kelebihan glukosa (sebagai produk fotosintesis) dalam jangka panjang. Pati yang diproduksi secara komersial biasanya didapatkan dari jagung, gandum, beras dan tanaman-tanaman umbi seperti kentang, ubi kayu dan ubi jalar. Jagung (zea mays L.), gandum (Triticumaestivum L.) dan kentang (Solarium tuberosum L.) merupakan sumber utama dari pati, sedangkan padi (Oryza sativa L.), gandum (Hordeum vulgare L.), sagu (Cycas spp.), garut (Tacca leontopetaloides (L.) Kuntze) memberikan kontribusi dalam jumlah yang lebih kecil terhadap total produksi global. Prosentase kandungan pati dalam % tersaji dalam tabel yang diambil dari Food Carbohidrates Chemistry Physics, Properties and Application(2005) di bawah ini.

Sumber Food Carbohidrates Chemistry Physics, Properties and Application(2005): Kandungan pati pada beberapa bahan pangan

Di Indonesia penelitian dan pengembangan teknologi bioplastik sangat besar potensinya, mengingat biodiversitas hasil pertanian dan kelautan yang dimiliki. Indonesia merupkan negara produsen singkong terbesar ketiga di dunia dengan rata-rata produksi dalam 5 tahun terakhir adalah 24 juta ton/tahun. Potensi pengembangan bioplastik berbahan dasar singkong di indonesia sangat besar. Pati singkong merupakan salah satu polimer alami yang dapat digunakan untuk produksi bioplastik karena sifatnya yang mudah terdegradasi, melimpah dan terjangkau.

Pembuatan bioplastik dengan bahan dasar pati singkong pada dasarnya menggunakan prinsip gelatinisasi. Dengan adanya penambahan sejumlah air dan dipanaskan pada suhu yang tinggi maka akan terjadi gelatinisasi. Gelatinisasi mengakibatkan ikatan amilosa akan cenderung saling berdekatan karena adanya ikatan hidrogen. Proses pengeringan akan mengakibatkan penyusutan sebagai akibat lepasnya air sehingga gel akan membentuk bioplastik yang stabil. Saat ini banyak penelitian yang dikembangkan mengenai penggunaan tepung pati sebagai bioplastik. Penggunaan tepung pati sebagai polimer alami memiliki keterbatasan, diantaranya adalah sifat mekanik yang kurang baik, serta kemampuannya untuk menyerap air. Untuk mengatasi hal ini, maka dilakukan penelitian untuk memperbaiki sifat-sifat tersebut. Penelitian yang dikembangkan salah satunya adalah membuat komposit dengan menambahkan partikel untuk memperbaiki sifat-sifatnya, salah satunya dengan zeolit.

 

*Oleh Adrinoviarini, Dosen teknologi Agroindustri UNUSIA Jakarta, Pemerhati Lingkungan Hidup dan Analis Kebijakan Pertanian, Email: ririn@unusia.ac.id

 

 

 

 


Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

E-LEARNING
E-LIBRARY